1. Pengertian Sistem
Menurut Hanif Al Fatta (2007) sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau himpunan dari unsur atau variabel-variabel yang saling terorganisasi, saling berinteraksi, dan saling bergantung sama lain.
Menurut Eriyanto (2004) sistem adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan dalam suatu lingkungan kompleks.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan, sistem adalah komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi untuk mencapai suatu tujuan.
2. Pengertian Informasi
Menurut Chr. Jimmy. L.Gaol (2008) informasi adalah segala sesuatu keterangan yang bermanfaat untuk para pengambil keputusan atau manajer dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Hendi Haryadi (2009) informasi dapat didefinisikan sebagai hasil pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan kejadian-kejadian yang nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan, informasi adalah sekumpulan data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang lebih berguna untuk pengambilan keputusan.
3. Pengertian Psikologi
Psikologi adalah ilmu tentang prilaku manusia dan binatang,serta penerapannya pada permasalahan manusia.
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan, psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku manusia dengan lingkungannya.
4. Pengertian sistem Informasi Psikologi
Menurut Chr. Jimmy L. Gaol (2008) sistem informasi psikologi bertujuan mendapatkan pemahaman bagaimana manusia pembuat keputusan merasa dan menggunakan informasi formal.
Sistem informasi psikologi adalah sebuah sistem yang digunakan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan psikologi yang dapat bermanfaat bagi penggunanya. Contohnya adalah pengaplikasian SIP dalam kehidupan yaitu penggunaan teknologi dalam pengambilan data tes psikologi, dalam hal ini umumnya komputer (komputerisasi alat tes psikologi). Seperti tes psikologi yang dulunya diberikan dengan cara manual, sekarang sudah bisa diberikan dengan komputerisasi seperti papikostik, hal ini merupakan suatu kerjasama antara bidang psikologi dengan ilmu komputer yang memberikan manfaat bagi kualitas tes psikologi tersebut.
Sumber :
Fatta, H.A. (2007). Analisis & Perancangan Sistem Informasi. Yogyakarta: Penerbit Andi. (Google Book)
Eriyanto. (2004). Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Bogor: Grasindo. (Google Book)
Gaol, C.J.L (2008). Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Grasindo. (Google Book)
Haryadi, H. (2009). Administrasi Perkantoran. Jakarta: Visi Media. (Google Book)
Basuki, H. (2008). Psikologi Umum Seri Diklat Kuliah. Jakarta ; Universitas Gunadarma.
http://www.pengertianahli.com/2013/08/pengertian-sistem-menurut-para-ahli.html
Jumat, 17 Oktober 2014
Senin, 09 Juni 2014
Bentuk-bentuk Utama dalam Terapi
A. Terapi Supportive
Suatu terapi yang tidak merawat atau memperbaiki kondisi yang mendasarinya, melainkan meningkatkan kenyamanan pasien.
Penyembuhan Supportif (Supportive Therapy) merupakan perawatan dalam psikoterapi yang mempunyai tujuan untuk :
· Memperkuat benteng pertahanan (harga diri atau kepribadian)
· Memperluas mekanisme pengarahan dan pengendalian emosi atau kepribadian
· Pengembalian pada penyesuaian diri yang seimbang.
Penyembuhan supportive ini dapat menggunakan beberapa metode dan teknik pendekatan, diantaranya :
Bimbingan (Guidance), Mengubah lingkungan (Environmental Manipulation), Pengutaraan dan penyaluran arah minat, Tekanan dan pemaksa, Penebalan perasaan (Desensitization), Penyaluran emosiona, Sugesti, Penyembuhan inspirasi berkelompok (Inspirational Group Therapy)
Tujuan dari terapi supportive antara lain, yaitu :
· Menaikkan fungsi psikologi dan sosial
· Menyokong harga dirinya dan keyakinan dirinya sebanyak mungkin
· Menyadari realitas, keterbatasannya, agar dapat diterima
· Mencegah terjadinya relaps
· Bertujuan agar penyesuaian baik
· Mencegah ketergantungan pada dokter
· Memindahkan dukungan profesional kepada keluarga
B. Terapi Redukatif
Suatu metode penyembuhan yang mempunyai bertujuan untuk mengusahakan penyesuaian kembali, perubahan atau modifikasi sasaran/tujuan hidup, dan untuk menghidupkan kembali potensi. Adapun metode yang dapat digunakan antara lain :
· Penyembuhan sikap (attitude therapy)
· Wawancara (interview psychtherapy)
· Penyembuhan terarah (directive therapy)
· Psikodrama
· Dan lain-lain.
Tujuan dari terapi reeducative adalah untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam sadar, dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri kembali, memodifikasikan tujuan dan membangkitkan serta mempergunakan potensi kreatif yang ada.
C. Terapi Reconstructive
Penyembuhan Rekonstruktif (Reconstructive Therapy)
Penyembuhan rekonstruktif mempunyai tujuan untuk menimbulkan pemahaman terhadap konflik yang tidak disadari agar terjadi perubahan struktur karakter dan untuk perluasan pertunbuhan kepribadian dengan mengembangkan potensi. Metode dan teknik pendekatannya antara lain :
§ Psikoanalisis
§ Pendekatan transaksional (transactional therapy)
§ Penyembuhan analitik berkelompok
Sumber :
Gunarsa, Singgih D. 2007. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia
Shaleh, Moh. 2008. Bertobat Sambil Berobat. Jakarta: PT Mizan Publika
Perbedaan Konseling dan Psikoterapi
- Konseling
Menurut Richard Nelson-Jones, konseling merupakan proses psikologi yang tidak ada bedanya dengan aktifitas psikoterapi. Dalam hal ini Richard mencoba menjelaskan bahwa tidak ada bukti yang menjelaskan perbedaan antara aktivitas konseling dengan proses psikoterapi (dalam buku : The Theory and Practice of Counseling Pychology)
Menurut Galdding, konseling berlangsung dalam jangka waktu yang relative singkat,bersifat antar pribadi, sesuai dengan teori-teori yang ada, dilakukan oleh orang yang ahli di bidangnya serta sesuai dengan etika dan aturan-aturan yang ada yang berpusat pada pemberian bantuan kepada orang-orang yang pada dasarnya mengalami gangguan psikologis agar orang-orang yang menyimpang dan mengalami masalah situsional dapat kembali normal.
- Psikoterapi
Menurut Hariyanto (2010), Psikoterapi adalah proses difokuskan untuk membantu Anda menyembuhkan dan konstruktif belajar lebih banyak bagaimana cara untuk menangani masalah atau isu-isu dalam kehidupan Anda. Hal ini juga dapat menjadi proses yang mendukung ketika akan melalui periode yang sulit atau stres meningkat, seperti memulai karier baru atau akan mengalami perceraian.
- Perbedaan Konseling dan Psikoterapi
Perbedaan konseling dan psikoterapi, dikutip uraian dari Brammer & Shostrom (1977) dan Thompson & Rudolph (1983) di bawah ini :
Brammer & Shostrom (1977) mengemukakan bahwa :
- Konseling ditandai oleh adanya terminology seperti : “educational, vocational, supportive, situational, problem solving, conscious awerness, normal, present-time dan short-term.
- Sedangkan psikoterapi ditandai oleh “supportive (dalam keadaan krisis), reconstructive, depthemphasis, analytical, focus on the past, neurotics and other severe emotional problems and long-tern”.
Konseling dan psikoterapi merupakan intervensi yang dilakukan oleh orang ahli untuk orang yang datang padanya. Keduanya merupakan interaksi antara seorang profesional dengan orang yang minta bantuan profesinya, baik konseling maupun psikoterapi merupakan proses persuasi.
Perbedaan konseling dan psikoterapi disimpulkan oleh Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang dikutip oleh Thompson &Rudolph (1983), sebagai berikut :
Konseling untuk :
1. Klien
2. Gangguan yang kurang serius
3. Masalah : jabatan, pendidikan
4. Berhubungan dengan pencegahan
5. Lingkungan pendidikan dan nonmedis
6. Berhubungan dengan kesadaran
7. Metode pendidikan
|
Psikoterapi untuk :
1. Pasien
2. Gangguan yang serius
3. Masalah kepribadian & pengambilan keputusan
4. Berhubungan dengan penyembuhan
5. Lingkungan medis
6. Berhubungan dengan ketidaksadaran
7. Metode penyembuhan
|
Sumber : Gunarsa, Singgih D. 2007. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia
Senin, 07 April 2014
PENGERTIAN PSIKOTERAPI
Pengertian
Psikoterapi
Psikoterapi adalah suatu interaksi
sistematis antara klien dan terapis yang menggunakan prinsip-psinsip psikologis
untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku, pikiran dan perasaan
klien supaya membantu klien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan
masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu.
Pengertian psikoterapi menurut
beberapa ahli adalah sebagai berikut:
Menurut Wolberg (1954), psikoterapi
adalah suatu bentuk dari perawatan (treatment) terhadap masalah-masalah yang
dasarnya emosi, dimana seseorang yang terlatih dengan seksama membentuk
hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah atau
mencegah munculnya gejala dan menjadi perantara untuk menghilangkan pola-pola
perilaku yang terhambat.
Menurut Whitaker dan Malone (1953),
psikoterapi adalah semua upaya untuk mempercepat pertumbuhan manusia sebagai
pribadi.
Ciri-ciri dari defenisi mengenai psikoterapi ini,
seperti penjelasan dibawah ini:
Interaksi Sistematis
Psikoterapi adalah suatu proses yang menggunakan suatu
interaksi antara kline dan terapis. Kata sistematis di sini berarti
terapis menyusun interaksi-interaksi dengan suatu rencana dan tujuan khusus
yang menggambarkan segi pandangan teoritis terapis.
Prinsip-prinsip Psikologis
Psikoterapis menggunakan prinsip-prinsip penelitian,
dan teori-teori psikologis serta menyusun interaksi teraupetik.
Tingkah Laku, Pikiran dan Perasaan
Psikoterapi memusatkan perhatian untuk membantu pasien
mengadakan perubahan-perubahan behavioral, kognitif dan emosional serta
membantunya supaya menjalani kehidupan yang lebih penuh perasaan. Psikoterapi
mungkin diarahkan pada salah satu atau semua ciri dari fungsi psikologis ini.
Tingkah Laku Abnormal, Memecahkan Masalah, dan
Pertumbuhan Pribadi
Sekurang-kurangnya ada tiga kelompok klien yang
dibantu oleh psikoterapi. Kelompok pertama adalah orang-orang yang
mengalami masalah-masalah tingkah laku yang abnormal, seperti gangguan suasana
hati, gangguan penyesuaian diri, gangguan kecemasan atau skizofrenia. Untuk
beberapa gangguan ini, terutama gangguan bipolar dan skizofrenia, terapi
biologis umumnya memegang peranan utama dalam perawatan. Meskipun demikian, selain
perawatan biologis, psikoterapi membantu pasien belajar tentang dirinya sendiri
dan memperoleh keterampilan-keterampilan yang akan memudahkannya menanggulangi
tantangan hidup dengan lebih baik. Kelompok kedua adalah orang-orang
yang meminta bantuan untuk menangani hubungan-hubungan yang bermasalah atau
menangani masalah-masalah pribadi yang tidak cukup berat dianggap abnormal,
seperti perasaan malu atau bingung mengenai pilihan-pilihan
karir. Kelompok ketiga adalah orang-orang yang mencari
psikoterapi karena psikoterapi dianggap sebagai sarana untuk memperoleh
petumbuhan pribadi. Bagi mereka, psikoterapi adalah sarana untuk penemuan diri
dan peningkatan kesadaran yang akan membantu mereka untuk mencapai potensi yang
penuh sebagai manusia.
Psikoterapi juga memiliki ciri-ciri yang lain.
Psikoterapi membutuhkan interaksi-interaksi verbal. Bagaimanapun juga,
psikoterapi adalah “terapi-terapi bicara”--- bentuk-bentuk interaksi antara
klien yang melibatkan pembicaraan. Dalam interaksi-interaksi itu, terapis yang
terampil adalah seorang pendengar yang penuh perhatian. Mendengar dengan penuh
perhatian adalah suatu kegiatan yang aktif bukan pasif. Terapis mendengar
dengan teliti apa yang dialami dan diusahakan oleh pasien untuk disampaikan
oleh psikoterapis. Psikoterapi-psikoterapi juga melibatkan
kemonukasi-komunikasi nonverbal. Seorang terapis yang terampil, seperti orang
pewawancara yang terampil, seharusnya peka terhadap isyarat-isyarat nonverbal
dari pasien dan peka terhadap gerak isyarat yang mungkin menunjukkan
perasaan-perasaan atau konflik-konflik yang mendasar. Terapis juga harus
menyampaikan empati melalui kata-kata dan juga gerak isyarat nonverbal, seperti
mengadakan kontak mata dan bersandar kedepan (kursi) untuk menunjukkan
perhatian terhadap apa yang dikatakan klien.
Sumber :
Mappiare, Andi. 1992. Pengantar Konseling dan
Psikoterapi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Semiun. Yustinus. 2006. Kesehatan
Mental. Yogyakarta. Kanisius
http://www.psychologymania.com/2011/10/pengertian-psikoterapi.html
http://belajarpsikologi.com/sebuah-pengantar-psikoterapi/
Jumat, 10 Januari 2014
Komunikasi Dalam Manajemen
A. Komunikasi
Interpersonal Efektif
Komunikasi
dapat di katakan efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagaimana di
masut oleh pengirim pesan,pesan di tindak lanjuti dengan sebuah perbuatan
secara suka rela oleh penerima pesan,dapat meningkatkan kualitas hubungan antar
pribadi,dan tidak ada hambatan untuk itu. Komunikasi interpersonal di katakan
efektif,apabila memenuhi tiga persyaratan utama,yaitu :
a. Pengertian yang sama dengan terhadap makna
pesan.
Salah
satu indikator yang dapat di gunakan sebagai ukuran komunikasi dikatakan
efektif,adalah apabila makna pesan yang di kirim oleh komunikator sama dengan
makna pesan yang diterima oleh komunikan. Pada tataran empiris,seringkali
terjadi mis komunikasi yang di sebabkan oleh karena komunikan memahami makna
pesan tidak sesuai dengan yang di maksudkan oleh komunikator.
b. Melaksanakan pesan secara suka rela.
Indikator
komunikasi interpersonal yang efektif berikutnya adalah bahwa komunikan
menindak lanjuti pesan tersebut dengan perbuatan dan dilakukan secara suka
rela,tidak karena di paksa. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam proses
komunikasi interpersonal,komunikator dan komunikan memiliki peluang untuk
memperoleh keuntungan. Komunikasi interpersonal yang baik dan berlangsung dalam
kedudukan setara sangat diperlukan agar kedua belah pihak menceritakan dan
mengungkapkan isi pikirannya secra suka rela,jujur,tanpa merasa takut.
Komunikasi interpersonal yang efektif mampu mempengaruhi emosi pihak pihak yang
terlibat dalam komunikasi itu kedalam suasana yang yaman,harmonis,dan bukan
sebagai suasana yang tertekan.
c. Meningkatkan kualitas hubungan antarpribadi.
Efektivitas
dalm komunikasi interpersonal akan mendorong terjadinya hubungan yang positif
terhadap rekan,keluarga,dan kolega. Hal ini disebabkan pihak pihak yang saling
berkomunikasi merasakan memperoleh manfaat dari komunikasi itu,sehinggamerasa
perlu untuk memelihara hubungan antarpribadi. Banyak orang menjadi sukses
karena memiliki hubungan yang sangat baik dengan orang lain. Mereka menanamkan
identitas yang positif kepada orang lain sehingga mereka memiliki image yang
baik di mata masyarakat.
Fungsi Komunikasi
Interpersonal Yang Efektif
Komunikasi
interpersonal dianggap efektif,jika orang lain memahami pesan anda dengan
benar,dan memberikan respon sesuai dengan yang anda inginkan. Komunikasi
interpersonal yang efektif berfungsi membantu anda untuk :
1. Membentuk dan menjaga hubungan baik antar
individu.
2. Menyampaikan pengetahuan.
3. Mengubah sikap dan perilaku.
4. Pemecahan masalah hubungan antar pribadi
5. Citra diri menjadi lebih baik.
Hukum Komunikasi Efektif
1. Lima hukum komunikasi efektif
Keefektifan
komunikasi interpersonal dapat pula dijelaskan dari prespektif The 5
Inevitable Laws of Effective Communication atau lima hukum komunikasi
efektif (ajimahendra.blogspot.com). Lima hukum itu meliputi: Respect,
Empathy, Audible, Clarity, dan Humble disingkat REACH
yang berarti meraih. Hal ini relevan dengan prinsip komunikasi interpersonal,
yakni sebagai upaya bagaimana meraih perhatian, pengakuan, cinta kasih,
simpati, maupun respom positif dari orang lain.
a. Respect
Hukum
pertama dalam mengembangkan komunikasi interpersonal yang efektif adalah respect,
ialah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita
sampaikan. Rasa hormat dan saling merhargai merupakan hukum yang pertama dalam
kita berkomunikasi dengan orang lain.
b. Empathy
Empathy (empati)
dalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang
dihadapi oleh orang lain. Komunikasi empatik dilakukan dengan memahami dan
mendengar orang lain terlebih dahulu, kita dapat membangun keterbukaan dan
kepercayaan yang kita perlukan dalam membangun kerjasama atau sinergi dengan
orang lain.
c. Audible
Makna
dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengertikan
atau dimengerti dengan baik. Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih
dahulu ataupun mampu menerima umpan balik dengan baik, maka audible berarti
pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan.
d. Clarity
Selain
bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka hukum ke empat yang
terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak
menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Claritydapat
pula berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi interpersonal
kita perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau
disembunyikan), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari
penerima pesan.
e. Humble
Hukum
ke lima dalam membangun komunikasi interpersonal yang efektif adalah sikap
rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk
membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati
yang kita miliki. Jika komunikasi yang kita bangun didasarkan pada lima hukum
pokok komunikasi yang efektif ini, maka kita dapat menjadi seorang komunikator
yang handal, yang dapat menyampaikan pesan dengan cara yang sesuai dengan
keadaan komunikan. Komunikasi interpersonal yang tidak mempertimbangkan keadaan
komunikan, akan menghasilkan komunikasi yang arogan, satu arah, dan seringkali
menjengkelkan orang lain.
Lima Sikap Positif yang
Mendukung Komunikasi Interpersonal
Devito
(1997:259-264) mengemukakan lima sikap positif yang perlu dipertimbangkan
ketika seseorang merencanakan komunikasi interpersonal. Lima sikap positif
tersebut, meliputi:
a. Keterbukaan (openness)
Keterbukaan
ialah sikap dapat menerima masukan dari orang lain, serta berkenaan
menyampaikan informasi penting kepada orang lain.
b. Empati (empathy)
Empati
ialah kemampuan seseorang untuk merasakan kalau seandainya menjadi orang lain,
dapat memahami sesuatu yang sedang dialami orang lain, dapat merasakan apa yang
dirasakan orang lain, dan dapat memahami sesuatu persoalan dari sudut pandang
orang lain, melalui kaca mata orang lain.
c. Sikap mendukung (supportiveness)
Hubungan
interpersonal yang efektif adalah hubungan di mana terdapat sikap mendukung (supportiveness).
Artinya masing-masing pihak yang berkomunikasi memiliki komitmen untuk
mendukung terselenggaranya interaksi secara terbuka.
d. Sikap positif (positiveness)
Sikap
positif (positiveness) ditunjukkan dalam bentuk sikap dan perilaku.
Sikap positif dapat ditunjukkan dengan berbagai macam perilaku dan sikap,
antara lain:
§ Menghargai orang lain
§ Berfikiran positif terhadap orang lain
§ Tidak menaruh curiga secara berlebihan
§ Meyakini pentingnya orang lain
§ Memberikan pujian dan penghargaan
§ Komitmen menjalin kerjasama
e. Kesetaraan (equality)
Kesetaraan
(equality) ialah pengakuan bahwa kedua belah pihak memiliki kepentingan,
kedua belah pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan saling memerlukan.
Indicator kesetaraan meliputi:
§ Menempatkan diri setara dengan orang lain
§ Menyadari akan adanya kepentingan yang
berbeda
§ Mengakui pentingnya kehadiran orang lain
§ Tidak memaksa kehendak
§ Komunikasi dua arah
§ Saling memerlukan
§ Suasana komunikasi akrab dan nyaman
Faktor keefektifan
Komunikasi Interpersonal
Komunikasi
interpersonal yang efektif menjadi keinginan semua orang. Dengan komunikasi
efektif tersebut, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya memperoleh manfaat
sesuai yang diinginkan. Ada beberapa faktor yang sangat menentukan keberhasilan
komunikasi interpersonal apabila dipandang dari sudut komunikator, komunikan,
dan pesan.
a. Faktor keberhasilan dilihat dari sudut
komunikan
1) Kredibilitas: ialah kewibawaan seorang
komunikator di hadapan komunikan. Pesan yag disampaikan oleh seorang komunikator
yang kredibitilitasnya tinggi akan lebih banyak memberi pengaruh terhadap
penerima pesan.
2) Daya tarik: ialah daya tarik fisik maupun non
fisik. Adanya daya tarik ini akan mengudang simpati penerima pesan komunikasi.
Pada akhirnya penerima pesan akan dengan mudah menerima pesan-pesan yang
disampaikan oleh komunikator.
3) Kemampuan intelektual: ialah tingkat
kecakapan, kecerdasan dan keahlian seorang komunikator. Kemampuan intelektual
itu diperlukan seorang komunikator, terutama dalam hal menganalisis suatu
kondisi sehingga bisa mewujdukan cara komunikasi yang sesuai.
4) Integritas atau keterpaduan sikap dan
perilaku dalam aktivitas sehari-hari. Komunikator yang memiliki keterpaduan,
kesesuaian antara ucapan dan tindakannya akan lebih disegani oleh komunikan.
5) Ketepercayaan: kalau komunikator dipercaya
oleh komunikan maka akan leibh udah menyampaikan pesan dan mempengaruhi sikap
orang lain.
6) Kepekaan sosial, yaitu suatu kemampuan
komunikator untuk memahami situasi di lingkungan hidupnya. Apabila situasi
lingkungan sedang sibuk, maka komunikator perlu mencari waktu lain yang lebih
tepat untuk menyampaikan suatu informasi kepada orang lain.
7) Kematangan tingkat emosional, ialah kemampuan
komunikator untuk mengendalikan emosinya, sehingga tetap dapat melaksanakan
komunikasi dalam suasana yang menyenangkan di kedua belah pihak.
8) Berorientasi kepada kondisi psikologis
komunikan, artinya seorang komunikator perlu memahami kondisi psikologis orang
yang diajak bicara. Diharapkan komunikator dapat memilih saat yang paling tepat
untuk menyampaikan suatu pesan kepada komunikan.
9) Komunikator harus bersikap supel, ramah dan
tegas.
B. Model Pengolahan
Informasi
Model-model
Pengolahan Informasi pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat
dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri) manusia untuk memahami
dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan data, merasakan adanya masalah
dan mengupayakan jalan pemecahannya, serta mengembangkan bahasa untuk mengungkapkannya. Model
Pengolahan informasi berorientasi pada :
a. Proses Kognitif
b. Pemahaman Dunia
c. Pemecahan Masalah
d. Berpikir Induktif
C. Model Interaktif
Manajemen
Prinsif Model Interaktif
manajemen:
Keseluruhan proses
manajemen dibangun berdasarkan hubungan ikatan kepercayaan yang membutuhkan
keterbukaan dan kejujuran baik dari pihak manajer maupun pekerja. Bawahan
menurut /melakukan pekerjaannya, bukan karena mereka dibuat seperti itu, tetapi
karena mereka merasa mengerti oleh manajer dan memahami masalahnya. Pekerja
bekerja keras untuk membuat keputusan yang benar. Mereka merasa tidak suka
dimanipulasi, dikontrol, atau dibujuk untuk membuat keputusan bahkan jika
keputusan itu yang akhirnya mereka buat. Jangan memecahkan masalah
bawahan. Mereka akan merasa tidak menyukai solusi tersebut, dan jika anda
sebagai manajer memperkenalkan solusinya, mereka akan tidak menyukai anda.
Tunjukan masalahnya; jangan pecahkan. Biarkan bawahan memecahkan masalah-masalah
mereka dengan bantuan anda.
Model Interaktif Manajemen
Model Interaktif manajemen
dalam komunikasi yang mencakup
1. Confidence
Kenyamanan dapat membuat
suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan
pengertian.
2. Immediacy
Suatu model organisasi yang
membuat suatu organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan
3. Interaction management
Adanya berbagai interaksi
dalam manajemen seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak
yang bersangkutan
4. Expressiveness
Mengembangkan suatu
komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
5. Other-orientation
Sumber :
Anggota IKAPI. 1987. Komunikasi
Mengena. Yogyakarta: Kanisius
Cangara, Hafidz,2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta:PT RajaGrafindo Persada
Cangara, Hafidz,2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta:PT RajaGrafindo Persada
Citrobroto, Suhartin. 1989. Prinsip-prinsip
dan Teknik Berkomunikasi. Jakarta: PT Citra Aditya Bakti
Effendy,
Onong Uchjana, Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Pengantar
Ilmu Komunikasi, Jakarta:Grasindo.Rosdakarya
Littlejohn,
Stephen W. 2001. Theories of Human Communication. USA:
Wadsworth Publishing.
Mulyana,
Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Rosda.
Ruben,
Brent D,Stewart, Lea P, 2005, Communication and Human Behaviour,USA:Alyn
and Bacon
Sendjaja,Sasa
Djuarsa,1994,Pengantar Komunikasi,Jakarta:Universitas Terbuka.
Suranto. 2011. Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha Ilmu, Edisi Pertama
Suranto. 2011. Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha Ilmu, Edisi Pertama
Langganan:
Postingan (Atom)